Senin, 21 November 2011



CERPEN
Sore itu suara Takbir bergema di masjid yang tak jauh dari rumah ku,, yang pertanda bahwa syawal yang mulia telah menjelang. Aku termenung sejenak dan bersyukur karena aku masih bisa menikmati merdunya suara takbir, tapi tanpa terasa air mata ku mengalir terkenang akan ibunda ku yang telah mendahului aku skitar 6 bulan yang lalu.
Setelah pagi menjelang aku melaksanaka shalat ied di masjid yang dekat dengan rumah ku, memang lebaran tahun ini sungguh berbeda dengan tahun sebelumnya. Setelah melaksanakan sholat ID bersama sanak family dan sepanjang jalan terus bersalaman sehangat mungkin dengan orang-orang terdekat, aku dan ayah ku serta saudara ku, langsung memburu rumah. Tidak seperti tahun kemarin, lebaran kali ini disajikan secara sederhana oleh kakak ku. Di atas meja makan yang biasanya padat dengan aneka penganan seperti ketupat dengan rendang, kue-kue tradisional, dan makanan-makanan ringan lainnya. Namun untuk lebaran tahun ini yang tersedia adalah ketupat sayur dan opor ayam saja.
Perbedaan ini pun bukan hanya dirasakan olehku saja, juga oleh ayah dan kakak ku, lebaran kali ini ada sesuatu yang hilang.. mendiang ibunda ku.
Setahun yang lalu, ibunda ku lah yang sibuk ini-itu, membelah ketupat, membuat rendang dan lain - lainnya, Setahun yang lalu, di hari lebaran kami ceria sekali. Kakak ku dan aku hanya membantu saja maklum kami belum bias kayak ibunda dan kami pun tetap membantunya agr ibunda ku tidak terlalu capek membuat bermacam – macam makanan yang segalanya dilakukan oleh ibu. Anda akan tahu, betapa hebatnya ibu ku..sebelum meninggal karena terserang stroke enam bulan yang lalu.
Sekarang, di lebaran tahun ini.. yang menyediakan makanan hanya aku dan kakak ku, tidak terasa air mata menggores pipiku. Bayangan wajah ibunda ku terlukis utuh pada wajah kakak ku. Kakak ku seolah telah menjadi pengganti ibunda ku di lebaran tahun ini.
Siapa yang tidak merasa sedih ditinggal oleh ibu tercinta? Aku sebagai anak yang bungsu sangat merasa kehilangan, aku hanya manusia yang memiliki air mata, yang meletakkan kesedihan, aku adalah manusia yang bisa sangat merasa kehilangan oleh sesuatu. dan itu tidak bisa tergantikannya oleh apa pun.
Setelah makan ketupat dan opor ayam, kami bergegas menuju pemakaman… ziarah ke makan ibunda ku. Kebetulan letak pemakaman umum hanya sekitar setengah KM saja ke arah selatan dari rumah ku. Dengan jalan kaki pun teramat mewah kami bisa menuju ke sana. Orang-orang ramai di jalan menuju ke pemakaman untuk ziarah. Bunga-bunga harum, melati, sedap malam, dan mawar.
Bunga flamboyan simbol pemakaman tumbuh kokoh di dekat pusara ibunda ku. di atas pusara yang tanahnya masih merah merekah dengan pohon kemboja kecil di atasnya. batu Nisan bertuliskan nama ibunda ku, tidak sanggup ditafsirkan dengan baik oleh aku namunbegitu mengiris perasaanku, kakak ku juga aku setelah membaca yassin menangis terisak..entah kenapa.. pun ikut-ikutan menangis, sambil mendekap aku dan kakak ku.. “ Nak, jangan nangis!” Bisiknya, tapi dia pun terisak-isak… Di pemakaman umum kami bertemu dengan para peziarah lain.. saling bersalaman, sesekali ada beberapa orang yang bersenda gurau…” Sudah memesan tempat belum!” Katanya kepada teman di sampingnya..
Wah..Desi pun ada rupanya, teman seangkatanku. Rupanya dia berziarah ke pusara orangtuanya. Bersama saudaranya dia menghampiriku… ” Minal aidzin wal faidzin, Mbak!” katanya sambil menyalamiku .” Minal aidzin wal faidzin…” Aku hanya bisa berbisik, sambil melangkah tetap kulihat ke belakang… fokus pada pusara ibu ku. Di tepi jalan, kami mengobrol panjang lebar. Kesuksesan dalam belajar memang menjadi pembicaraan akudan temanku ini.
Langit nyaris tanpa selembar awan yang menutupinya. Udara cerah bukan main, matahari baru satu tombak di sebalik bukit pun telah membuka cakrawala yang luas ini. Seandainya lebaran tahun ini masih ada mendiang ibunda ku pasti tersa lebih lengkap kebahagiaan keluarga kami, tapi yang terbayang hanyalah wajah mendiang ibunda ku tercinta, dan aku berbisik ” Maafkan kesalah ku ibu…. Aku merindukan mu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar