CERPEN
Sore itu suara Takbir bergema di masjid
yang tak jauh dari rumah ku,, yang pertanda bahwa syawal yang mulia telah
menjelang. Aku termenung sejenak dan bersyukur karena aku masih bisa menikmati
merdunya suara takbir, tapi tanpa terasa air mata ku mengalir terkenang akan
ibunda ku yang telah mendahului aku skitar 6 bulan yang lalu.
Setelah pagi menjelang aku melaksanaka
shalat ied di masjid yang dekat dengan rumah ku, memang lebaran tahun ini
sungguh berbeda dengan tahun sebelumnya. Setelah melaksanakan sholat ID bersama
sanak family dan sepanjang jalan terus bersalaman sehangat mungkin dengan
orang-orang terdekat, aku dan ayah ku serta saudara ku, langsung memburu rumah.
Tidak seperti tahun kemarin, lebaran kali ini disajikan secara sederhana oleh
kakak ku. Di atas meja makan yang biasanya padat dengan aneka penganan seperti
ketupat dengan rendang, kue-kue tradisional, dan makanan-makanan ringan
lainnya. Namun untuk lebaran tahun ini yang tersedia adalah ketupat sayur dan
opor ayam saja.
Perbedaan ini pun bukan hanya dirasakan olehku saja, juga oleh ayah dan kakak ku, lebaran kali ini ada sesuatu yang hilang.. mendiang ibunda ku.
Perbedaan ini pun bukan hanya dirasakan olehku saja, juga oleh ayah dan kakak ku, lebaran kali ini ada sesuatu yang hilang.. mendiang ibunda ku.
Setahun yang lalu, ibunda ku lah yang
sibuk ini-itu, membelah ketupat, membuat rendang dan lain - lainnya, Setahun
yang lalu, di hari lebaran kami ceria sekali. Kakak ku dan aku hanya membantu
saja maklum kami belum bias kayak ibunda dan kami pun tetap membantunya agr
ibunda ku tidak terlalu capek membuat bermacam – macam makanan yang segalanya
dilakukan oleh ibu. Anda akan tahu, betapa hebatnya ibu ku..sebelum meninggal
karena terserang stroke enam bulan yang lalu.
Sekarang, di lebaran tahun ini.. yang
menyediakan makanan hanya aku dan kakak ku, tidak terasa air mata menggores
pipiku. Bayangan wajah ibunda ku terlukis utuh pada wajah kakak ku. Kakak ku
seolah telah menjadi pengganti ibunda ku di lebaran tahun ini.
Siapa yang tidak merasa sedih ditinggal
oleh ibu tercinta? Aku sebagai anak yang bungsu sangat merasa kehilangan, aku
hanya manusia yang memiliki air mata, yang meletakkan kesedihan, aku adalah
manusia yang bisa sangat merasa kehilangan oleh sesuatu. dan itu tidak bisa
tergantikannya oleh apa pun.
Setelah makan ketupat dan opor ayam,
kami bergegas menuju pemakaman… ziarah ke makan ibunda ku. Kebetulan letak
pemakaman umum hanya sekitar setengah KM saja ke arah selatan dari rumah ku.
Dengan jalan kaki pun teramat mewah kami bisa menuju ke sana. Orang-orang ramai
di jalan menuju ke pemakaman untuk ziarah. Bunga-bunga harum, melati, sedap
malam, dan mawar.
Bunga flamboyan simbol pemakaman tumbuh
kokoh di dekat pusara ibunda ku. di atas pusara yang tanahnya masih merah
merekah dengan pohon kemboja kecil di atasnya. batu Nisan bertuliskan nama
ibunda ku, tidak sanggup ditafsirkan dengan baik oleh aku namunbegitu mengiris
perasaanku, kakak ku juga aku setelah membaca yassin menangis terisak..entah
kenapa.. pun ikut-ikutan menangis, sambil mendekap aku dan kakak ku.. “ Nak,
jangan nangis!” Bisiknya, tapi dia pun terisak-isak… Di pemakaman umum kami
bertemu dengan para peziarah lain.. saling bersalaman, sesekali ada beberapa
orang yang bersenda gurau…” Sudah memesan tempat belum!” Katanya kepada teman
di sampingnya..
Wah..Desi pun ada rupanya, teman seangkatanku. Rupanya dia berziarah ke pusara orangtuanya. Bersama saudaranya dia menghampiriku… ” Minal aidzin wal faidzin, Mbak!” katanya sambil menyalamiku .” Minal aidzin wal faidzin…” Aku hanya bisa berbisik, sambil melangkah tetap kulihat ke belakang… fokus pada pusara ibu ku. Di tepi jalan, kami mengobrol panjang lebar. Kesuksesan dalam belajar memang menjadi pembicaraan akudan temanku ini.
Wah..Desi pun ada rupanya, teman seangkatanku. Rupanya dia berziarah ke pusara orangtuanya. Bersama saudaranya dia menghampiriku… ” Minal aidzin wal faidzin, Mbak!” katanya sambil menyalamiku .” Minal aidzin wal faidzin…” Aku hanya bisa berbisik, sambil melangkah tetap kulihat ke belakang… fokus pada pusara ibu ku. Di tepi jalan, kami mengobrol panjang lebar. Kesuksesan dalam belajar memang menjadi pembicaraan akudan temanku ini.
Langit nyaris tanpa selembar awan yang
menutupinya. Udara cerah bukan main, matahari baru satu tombak di sebalik bukit
pun telah membuka cakrawala yang luas ini. Seandainya lebaran tahun ini masih
ada mendiang ibunda ku pasti tersa lebih lengkap kebahagiaan keluarga kami,
tapi yang terbayang hanyalah wajah mendiang ibunda ku tercinta, dan aku
berbisik ” Maafkan kesalah ku ibu…. Aku merindukan mu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar